Senja dan Warna Tak Pernah Berseteru
Karya : Sekala Pena
Melihat segala perkembangan puisi di era sekarang ini, banyak penulis mengumpamakan perasaannya lewat berbagai hal, salah satunya adalah perpaduan langit jingga. Dengan demikian, para kaum millenial sekarang sudah tidak asing lagi mengenai ciri khas dari puisi tersebut.
Oleh karena itu, terdapat beberapa kumpulan puisi karya Sekala Pena dengan perpaduan langit jingga atau biasa kita sebut dengan senja.
Puisi di bawah ini diperuntukkan bagi kalian yang sedang merasa mengarungi hidup dengan sendiri sepi atau bahkan tentang perasaan kehilangan.
Terbenam
Deru angin menabrak kalbu kala itu
Langit-langit penuh sekat tuk di tatap
Mega-mega beriring berarak
Bertudung di peraduan langit jingga
Menghadiahi buah imaji yang sangat keji
Meluluhlantakkan hati
Lembayungnya kian menawan rupawan
Cicit burung bermesraan disana
Tatap gadis disebuah telaga
Jemarinya mencoba menggapai namun tak sampai
Senangkah diatas sana?
Aku ingin terbang!
Bersama dengan padamnya jingga!
Teriaknya lantang tak goncang
Pekatnya jingga memberi siasat
Berbisik sunyi namun enggan tuk di tangisi
Binar lampu kota mulai bercahaya
Lantas apa?
Kini sang gadis pergi
Meninggalkan telaga
Ditinggalkan jingga
Bersama jiwa rimpuh penuh peluh
FASE
Keheningan dalam wujud langit jingga
Memudar sudah di babat habis
Dipaksa malam agar hilang
Demi terganti oleh bintang
Jingga dan jendela
Jingga sore di tanggal dua
Warnamu benar-benar menggoda
Besok datang lagi ya?
Aku suka
Jangan sungkan datang
Bahkan sekedar meminta pangkuan
Muncul di rongga engsel berangsur hilang
Melihatmu, aku tenang
Seperti dekapannya
"Kenapa jingga pergi menjauh? Kenapa? Aku tak suka jinggaku direbut langit malam yang gelap itu. Langit gelap itu mematikan kamu."
"Setelah sekian lama menunggu. Akhirnya, sang jingga berada didekapanku. Jangan bosan mendampingiku ya."
